Minggu, 29 Juli 2012

??

yuuu yuuuu ,.,., hehehehehehe

semoga semua berjalan seperti saat itu,.
dan semoga saja perlahan mencoba untuk menerima,.
tidak harus spontan memang ,. tpi perlahan seperti menanam sebuah jagung,. lama" disiram juga akan tumbuh besar, dan menghasilkan buah, atau apalah yang bermanfaat (Perumpamaan)

jangan selalu melihat keatas,. sementara dibawah kita masih ada yang kekurangan,. jkalau kita melihat keatas jatuhnya akan sakit,.,.

kata-kata :
Dalam cinta, temukan seseorang yang bisa menerima kekuranganmu. Dia yang akan menangkapmu ketika kamu jatuh. ~

Kamis, 26 Juli 2012

^_^*^_^

Seperti merindukan bulan disiang hari ,. itulah sepenggal cerita ,.

Ku anggap ini ujian keikhlasan untuk sebuah kisah hidup,. belajar untuk menerima keikhlasan itu susahnya minta ampun ,. kata #IKHLAS buatku itu hanya dalam teori dan ucapan saja,.

Aku bisa memberi masukan bahkan semangat kepada temanku yang lagi (Galau), hehehehe :')
tetapi aku sendiri tidak mampu membuat hatiku sendiri merasa tenang, menerima itu pun sulit buatku,.

ooh TUHAN,. semoga aku tidak melupakanmu ,. walau keadaanku seperti ini,.
mungkin ini cobaan untuk membuatku lupa Kepada-Mu,.

seperti kata kata ku di atas ,. aku merindukan bulan bersinar di pagi hari,. hehehe
itu mungkin kata kata yang pas,. sudah ku menemukan orang yang mungkin dibilang terbaik di antara yang lain laah :p
tetapi masih ada aja kekurangannya ,. setelah aku menyadari manusia memang tidak ada yang sempurna di dunia ini ,. aku pun dapat menerima kekuranganmu tersebut,. tetapi kau membohongi ku lagi ,. dengan hal yang sangat aku benci ,.#maaf

yaa akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari hidupmu ,. #karena kamu Pembohong,.
tetapi kenapa hatiku tidak dapat berbohong kalau aku masih sayang sama kamu,.
sedikit demi sedikit aku melupakanmu ,. tetapi aku masih saja mengintip FB kamu ,.
sudah kuhapus pertemananku dengan mu ,. tetapi tetap saja , aku masih melihatmu ,.

lama tak melihatmu di FB kamu berkata seperti ini :

Rabu, 18 Juli 2012

KDM II


 KEJANG DEMAM

A. Definisi
  • Kejang adalah gangguan system SSP local atau sistemik sehingga kejang bukan merupakan suatu penyakit, kejang merupakan tanda paling penting akan adnaya suatu  penyakit lain sebagai penyebab kejang.
  • Kejang adalah gerakan otot tubuh secara mendadak yang tidak disadari baik dalam bentuk kronik atau tonik dengan atau tanpa disertai hilangnya kesadaran.
  • Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu diatas 38oC atau suhu diatas 39oC yang disebabkan oleh proses ekstra karanium (diluar rongga tengkorak).

B. Etiologi

1. Gangguan vaskuler
a.       Perdarahan akibat ptechi akibat dari anoreksia dan asfiksia yang dapat terjadi di intra cerebral atau intra ventrikuler.
b.      Perdarahan akibat trauma langsung yaitu berupa perdarahan di subcranial atau subdural.
c.       Trombosis.
d.      Penyakit perdarahan seperti defisiensi vitamin K.
e.       Sindroma hiperviskositas.
2. Gangguan metabolisme
a.       Hipokalsemia.
b.      Hipomagnesia.
c.       Hipoglikemia.
d.      Amino Asiduria.
e.       Hipo dan Hipernatremia.
f.       Hiperbilirubin.
g.      Defisiensi dan ketergantungan akan piridoksin.

3. Infeksi.
a.       Meningitis.
b.      Enchepalitis.
c.       Toksoplasma congenital.
d.      Penyakit cytomegali inclusion.
4. Toksik
a.       Obat convulsion.
b.      Tetanus.
c.       Enchephalopati Timbal.
d.      Sigelosis Salmenali.
5. Kelainan Kongenital.
a.       Parasenfali.
b.      Hidrasefali.
6. Lain-lain
a.       Narkotik Withdraw.
      b.      Neoplasma.
Factor-faktor yang dapat menyebabkan kejang demam antara lain:
  1. Demam itu sendiri atau tinggi suhu badan anak.
  2. Efek produk toksik dari pada mikroorganisme (kuman dan virus).
  3. Respon alergi atau keadaan imun yang abnormal oleh infeksi.
  4. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit.
  5. Enchepalitis vital (radang otak akibat virus) ringan yang tidak diketahui atau enchepalopati toksik sepintas.
  6. Gabunganh semua faktoer tersebut diatas.

C. Tanda Dan Gejala
    1. suhu tubuh lebih dari 39°C per rectal
    2. hilang kesedaran
    3. kekakuan otot yng tidak terkendali
    4. terjadi gerakan berulang- ulang secara periodik selama ± 15 menit.
    5. wajah kebiruan
    6. mata mendelik keatas

D. Klasifikasi
Secara umum dibagi 2 yautu:

  1. konvulsi akut (Non Rekuren)
merupakan konvulsi yang sering terjadi pada neonatus. Seluruh tipe serangan konvulsi akut pada anak dapat merupakan manifestasi sementara penyakit akut yang melibatkan otak. Umumnya kejang demam terjadi setalah 6 bulan pertama kehidupan, namun dalam 2-3 tahun pertama insidennya terus-menerus mencapai usia 6-8 tahun dan sesudah itu kejang menjadi jarang.

  1. Konvul Kroniuk (Rekuren)
Dapat disebit juga epilepsy, terdapat 10 macam epilepsy:
·         Epilepsi Idiopatik
Gambaran electroenchepalografik terutama saat tidur, memperlihatkan abnormalitas umum pada 90% anak dengan kejang idiopatik.
·         Epilepsi Organik
Dapat terjadi setelah kerusakan otak diapat pada masa prenatal, natal dan postnatal, anak sering memperlihatkan cacat motorik dan retardasi mental.
·         Epilepsy Tonik-Klonik
Kejang umum, datang spasme otot dengan fase tonik-klonik. Epilepsy ini dapat terjadi pada malam hari tanpa disadari klien, lidah atau gigi tergigit, nyeri kepala, darah dibantal atau tempat tidur basah oleh kemih, dapat terjadi 1-2 hari.
·         Epilepsi (Absence) Peti Mal
Kehilangan kesadaran sementara, berputarnya bola mata keatas, gerakan alis mata, kepala mengangguk, anggukan kepala sedikit gemetar pada otot badan dan anggota tubuh.
·         Epilepsy Psikomotorik
Berupa gerakan motorik tetapi rudak berulang dan sering kompleks, sering didapatkan kepucatan di sekitar mulut, pekikan nyaring atau usaha minta pertolongang orang lain.
·         Kejang Portial Vokal.
Kejang ini dimulai pada suatu kelompok yang menyebar ke tempat lain, misalnya dari ibu jari ke tempat lain, pergelangna tangan, lengan, wajah, dan kemudian kaku yang sama.
·         Kejang Mioklonik Infantil
Kejang sebelum usia 2 tahun, dibagi menjadi 2, yaitu:
v  Jika tingkat perkembangnan tidak pernah normal terjadi pada usia 4 bulan, terdapat cacat cerebellum congenital atau sebab organic lainnya.
v  Jika anak tumbuh normal  sampai usia 6 bulan atau lebih, memiliki kemampuan motorik yang baik namun dengan kemampuan bahasa dan penyesuain yang bururk dibandingkan usia kronologinya.
·         Kejang Mioklonik dan Akinetik
Biasanya melibatkan satu kelompok otot dan dikaitlan dengan hilangnya tonis postural tubuh secara mendadak.
·         Kejang Noidural
Mimpi bururk dan tidur berjalan (somnebolisme) paling sering terjadi pada saat tidur nyenyak yaitu (1-2 jam) setelah ridur.
·         Kejang Induksi
Dengan terapi obat saja biasanya tidak memuaskan, setelah anak belajar menarik perhiasan perhatian dengan cara ini, maka sulit untuk mrngubah kembali.

E. Manifestasi  Klinis
Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat, yang disebabkan oleh infeksi diluar SSP: misalnya tonsillitis, otitis media akut, bronchitis, furunkulosisi,. Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan singkat bangkitnya bersifat tonik-klonik, tonik, klonik, vocal, atau kinetic. Umumnya kejang berhenti sendirir.
Begitu kejang berhenti, anak tidak memberi reaksi apapun untuk  sejenak tetapi setelah beberapa detik atau menit anak akan terbangun dan sadar kembali tanpa adanya kelainan saraf. Menururt FKUI-RSCM Jakarta pedoman untuk membuat diagnosis kejang demam sederhana yaitu:
  1. Umur anak ketika kejang demam antara 6 bulan – 4 tahun.
  2. Kejang berlansung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit.
  3. Kejang bersifat umum.
  4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam.
  5. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal tidak mungkin menimbulkan kelainan.
  6. frekuensi kejang bangkitan dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali.
  7. pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal
G. Prognosis

Resiko yang  akan dihadapi seorang anak sesudah menderita kejang demam terganting factor:
  1. Riwayat penyakit kejang  tanpa demam dalam keluarga.
  2. kelainan dalam perkembangan atau kelainan saraf sebelum anak menderita kejang demam.
  3. kejang yang berlangsung lama atau kejang vocal.

Bila terdapat paling sedikit 2 dari 3 faktor  di atas maka
  1. dikemudian hari akan mengalami serangan kejang tanpa demam sekitar 13% dibandingkan bila terdapat satu atu tidak sama sekali factor tersebut di atas, serangan kejang tanpa demam hanya 2 – 3 % saja.
  2. hemiparesis biasanya terjadi pada pasien yang mengalami kejang lama (berlangsung lebih dari 30 menit) baik bersifat umum atau fokal. Kelumpuhan dapat terjadi pada kejang fokal yang bersufat flaksit tetapi setelah 2 minggu timbul spasitas.

H. Penatalaksanaan
  1. Memberantas kejang secepat mungkin
Bila penderita kejang dalam keadaan konfusitus, obat pilihan utama adalah diazepam yang dibertikan secara IV, keberhasilannya dapat menekan kejang sekitar 80 – 90 % dengan efek terapiutik yang sangat cepat. Dosis obat tergantung dari berat badan yaitu:
·         BB kurang dari 10 kg : 0,5 – 0,75 mg/kg BB dengan minimal dalam sempirit 2,5 mg
·         BB 10 – 20 kg : 0,5 mg/kg BB dengan minimal dalam sempirit 7,5 mg.
·         BB diatas 20 kg: 0,5 mg/kg BB
Biasanya dosis rata-rata yang terpakai 0.3 mg/kgBB tiap kali dengan maksimum 5 mg pada anak berumur kurang dari 5 tahun dan 10 mg pada anak yang lebih besar.
2.      Pengobatan Penunjang
Sebelum memberantas kejang tidak boleh dilupakan perlunya pengobatan penunjang
a.       Semua pakaian ketat dibuka
b.      Posisi kepala miring untuk mencegah aspirasi pada lambung.
c.       Ushakan jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan oksigen bila perlu lakukan intibasi atau trakeostomi.
d.      Penghisapan lender harus dilakukan secara teratur dan diberikan oksigen.

Fungsi vital seperti kesadaran, suhu, TD, RR dan fungsi jantung harus diawasu secara ketat. Cairan intravena sebaiknya diberikan dengan monitoring untuk menilai adnya kelainan metabolic dan elektrolit. Jika suhu meningkat sampai hiperpireksia dilakukan hibermasi dengan kompres alcohol dan es. Obat untuk hibermasi adalah Clorpromazin 2 – 4 mg/kgBB perhati di bagi dalam 3 dosis secara suntiksn. Untuk mencegah edema otak diberikian kortikosteroid dan glukokortikosteroid.
3.      Pengobatan Rumatan
Dibagi 2 bagian:
a.       Profilaksis intermitten
Untuk mencegah terukangnya kejang kembali di kemudian hari dengan memberikan obat campuran anti konvulsan dan antipiretik.
b.      Profilaksis jangka panjang
Gunanya untuk menjamin terdapatnya dosis terapiutik yang stabil dan cukup di dalam darah penderita untuk mencegah terulangnya kejang dikemudian hari.
4.      Mencari dan Mengobati Penyebab
Pasien yang dating dengan kejang demam sebaiknya dilakukan pemeriksaan intensif seperti:
a.       Pungsi lumbal
b.      Darah lengkap
c.       Gula darah.
d.      Elektrolit (kalium, magnesium, matrium).
e.       Faal hati.
f.       Foto tengkorak.
g.      EEG
h.      Enchepalografi.


BAB II
KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian
     Hal – hal yang perlu dikaji pada anak yang mengalami kejang :
1)      Riwayat kesehatan bayi atau anak.
Riwayat kelahiran atau dimasa neonatus, penyakit kronis, neoplasma, imunosupresi, infeksi telinga dalam atau infeksi ekstra cranial (OMA), meningitis atau enchepalitis, tu,or otak yang merupakan penyebab terjadinya kejang sehingga diperlukan anamnese.
2)      Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisisk yang dilakukan untuk mengetahui apakah ada kelainan neurologik, peningkatan TTV, yang biasanya terjadi pada anak yang mengalami kejang. Kejang terutama pada anak golongan umur 6 bulan – 4 tahun. Pemeriksaan fisik dopengaruhi oleh usia anak dan organisme penyebab, perubahan tingkat kesadaran, irritable, kejang tonik klonik, tonik, klonik, takikardi, perubahan pola nafas, muntah dan hasil pungsi lumbal yang abnormal.
3)      Psikososial atau factor perkembangan
Umur, tungkat perkembangan, kebiasaan (apakah anak merasa nyaman, waktu tidur teratur, benda yang difavoritkan), mekanisme koping, pengalman dengan penyakit sebelumnya.
4)      Riwayat penyakit kejang atau tanpa demam dalam keluarga,
5)      Kelainan dalam perkembangan atau kelainan saraf debelum anak menderita kejang demam.
6)      Lama berlangsungnya kejang.
7)      Frekuensi terjadinya kejang dalam satu tahun.
8)      Adanya anggota keluarga yang pernah menderita kejang sebelumnya.

Pengkajian Neurologik
1)      Tanda – tanda vital
Suhu, TD, denyut jantung, tekanan darah, RR.
2)      Hasil pemeriksaan kepala.
a.       Frontal : menonjol, rata, dan cekung
b.      Lingkar kepala (di bawah 2 tahun)
c.       Bentuk umum.
3)      Reaksi pupil.
a.       Ukuran
b.      Reaksi terhjadap cahaya
c.       Kesamaan respon
4)      Tingkat kesadaran
a.       Kewaspadaan
b.      Iritabilitas
c.       Letargi dan rasa mengantuk
d.      Orientasi terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan
5)      Afek
Alam perasaan, labilitas
6)      Aktivitas kejang
Jenis dan lamanya
7)      Refleks
a.       Reflek tendo superficial dan dalam
b.      Adanya reflek patologis (misalnya: Babinski)
8)      Kemampuan intelektual
a.       Kemampuan menulis dan menggambar
b.      Kemampuan membaca
9)      Fungsi sensoris
a.       Reaksi terhadap nyeri
b.      Reaksi terhadap suhu

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Resiko tinggi terjadi injuri sehubungan dengan aktivitas kejang, serangan mendadak dari perubahan aliran darah ke otak .
Intervensi
Ó Preconvulsif
·   Mengidentifikasi faktor resiko preconvulsif untuk penyakit kejang
·   Monitor cardio pulmonal secara terus menerus
·   Kaji kadar gula darah
·   Sediakan dan dekatkan peralatan section
·   Sediakan O2 sesuai indikasi  
Ó Konvuslif
·         Catat waktu, durasi, bagian tubuh yang teribat dan frekwensi kejang
·         Atur pemberian obat
·         Pastikan klien dalam keadaan aman 
Ó Post konvulsif
·         Monitor TTV dan kesadaran klien
·         Pertahankan jalan nafas efektif
·         Sediakan oral hygiene.

2.  Tidak efektinya jalan nafas sehubungan dengna spasme otor pernafasan, aspirasi
Intervensi 
·         Baringkan klien
·         Berikan O2 1 – 2 L / mnt, bila berat berikan 4 L / mnt
·         Pada saat kejang berikan sudip lidah untuk mencegah agar lidah tidak tergigit
·         Observasi TTV secara kontinue setiap 30 menit
3. Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang pengalaman, kurang informasi perawatan rumah .
Intervensi
·         Anjurkan orang tua mengenal kelainan kejang
·         Diskusikan pengobatan, dosis , tujuan , frekwensi , efek samping dan apa yang harus dilakukan dengan kesalahan dosis
·         Diskusikan rencana keperawatan dirumah, perwatan elama kejang
·         Ajakan kepada orang tua bagaimana mengobservasi dan menentukan pertolongan pertama uyang aman dan legal
4.  Gangguan konsep diri ( gambaran diri / harga diri ) sehubungan dengan kehilangan kontrol diri , reaksi lingkungan sekitar tehadap anak
Intervensi
·         Jelaskan perilak anak selama kejang kepada anak mereka seperti anak yang lainnya .
·         Bantu orang tua untuk menentukan kegiatan perkembangan anak yang tepat
·         Siapakan anak untuk melalakukan tindakan perawatan diri sendiri
·         Dampingi anak / orang tua  untuk mempergunakan sumber – sumber koping tepat .
C. Perencanaan
1.      Prioritas keperawatan
Prioritas keperawatan pada klien dengan kejang menurut Dongoes ( 2002 )
1.       Mengenali aktivitas kejang
2.       Melindungi pasien dari cidera
3.       Mempertahankan jalan nafas / fungsi pernafasan  
4.       Membangkitan harga diri positif
5.       Memberi informasi tentang proses penyakit , prognosa, dan penanganan selama terjadi serangan
D. Evaluasi
Hasil yang diharapkan setelah dilakukan tindakan keperwatan anak dengan kejang adalah
1.      Anak bebas dari cidera fisik
2.       Aktifitas kejang dapat dicegah dan dikendalikan
3.       Anak memiliki harga diri ndan citra diri yang positif yang meningkatkan kesejahteraan .

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI.1989.Perawatan Bayi Dan Anak Edisi I.Jakarta : Bakti Husada.
Greenber,C.S.1988.Nursing Care Planning Guides For Children.USA : Willams and Williams.
Mansjoer,Arief.2000.Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2.Jakarta : Media Aesculapius.
Suriadi,S.Kep.1987.Asuhan Keperawatan Pada Anak edisi 1.Jakarta : PT. Fajar Interpratama.
Pedoman diagnosa dan terapi laboratorium/ UPF IKA, 1994 : RSUD Dr. Soetomo Surabaya ( hal 148-149 kejang demam, 151 – 153 status konvulsi)
Behrman, E. Richard, 1992. ilmu kesehatan anak . jakarta : EGC

Sabtu, 14 Juli 2012

KDM 1


OKSIGENASI

A.Pengertian

Oksigenasi adalah proses penambahan oksigen O2 ke dalam sistem (kimia atau fisika). Oksigenasi merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang sangat dibutuhkan dalam proses metabolisme sel. Sebagai hasilnya, terbentuklah karbon dioksida, energi, dan air. Akan tetapi penambahan CO2 yang melebihi batas normal pada tubuh akan memberikan dampak yang cukup bermakna terhadap aktifitas sel.
(Wahit Iqbal Mubarak, 2007)

Oksigen adalah salah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme untukmempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh. Secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup O2 ruangan setiap kali bernapas.
(Wartonah Tarwanto, 2006)

Oksigen merupakan kebutuhan dasar paling vital dalam kehidupan manusia, dalam tubuh, oksigen berperan penting dalam proses metabolism sel tubuh. Kekurangan oksigan bisa menyebabkan hal yangat berartibagi tubu, salah satunya adalah kematian. Karenanya, berbagai upaya perlu dilakukan untuk mejamin pemenuhan kebutuhan oksigen tersebut, agar terpenuhi dengan baik. Dalam pelaksanannya pemenuhan kebutuhan oksigen merupakan garapan perawat tersendiri, oleh karena itu setiap perawat harus paham dengan manisfestasi tingkat pemenuhan oksigen pada klienya serta mampu mengatasi berbagai masalah yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan tesebut.


B. Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernapasan

Stuktur Sistem Pernafasan

1. Sistem pernafasan Atas
    Sistem pernafasaan atas terdiri atas mulut,hidung, faring, dan laring.
    hidung. Pada hidung udara yang masuk akan mengalami penyaringan, humidifikasi, dan     
    penghangatan Faring. Faring merupakan saluran yang terbagi dua untuk udara dan   
    makanan. Faring terdiri atas nasofaring dan orofaring yang kaya akan jaringan limfoid yang   
    berfungsi menangkap dan dan menghancurkan kuman pathogen yang masuk bersama udara.
    Laring. Laring merupakan struktur yang merupai tulang rawan yang bisa disebut jakun.   
    Selain berperan sebagai penghasil suara, laring juga berfungsi mempertahankan kepatenan dan    
    melindungi jalan nafas bawah dari air dan makanan yang masuk.

2. Sistem pernafasan Bawah
    Sistem pernafasaan bawah terdiri atas trakea dan paru-paru yang dilengkapi dengan bronkus,    
    bronkiolus, alveolus, jaringan kapiler paru dan pleura.
    Trakea. Trakea merupakan pipa membran yang dikosongkan oleh cincin v kartilago yang    
    menghubungkan laring dan bronkus utama kanan dan kiri.
    Paru. Paru-paru ada dua buah teletak di sebelah kanan dan kiri. v Masing-masing paru terdiri        
    atas beberapa lobus (paru kanan 3 lobus dan paru kiri 2 lobus) dan dipasok oleh satu bronkus.    
    Jaringan-jaringn paru sendiri terdiri atas serangkain jalan nafas yang bercabang-cabang, yaitu    
    alveoulus, pembuluh darah paru, dan jaringan ikat elastic. Permukaan luar paru-paru dilapisi   
    oleh dua lapis pelindung yang disebut pleura. Pleura pariental membatasi toralk dan    
    permukaan diafragma, sedangkan pleura visceral membatasi permukaan luar paru. Diantara    
    kedua lapisan tersebut terdapat cairan pleura yang berfungsi sebagai pelumas guna mencegah    
    gerakan friksi selama bernafas.


Berdasarkan tempatnya proses pernafasan terbagi menjadi dua dua yaitu:

a. Pernapasan eksternal
    Pernapasan eksternal (pernapasan pulmoner) mengacu pada keseluruhan proses pertukaran O2   
    dan CO2 antara lingkungan eksternal dan sel tubuh. Secara umum proses ini berlangsung    
    dalam tiga langkah, yakni :
1. Ventilasi pulmoner
    Saat bernapas, udara bergantian masuk-keluar paru melalui proses ventilasi sehingga terjadi    
    pertukaran gas antara lingkungan eksternal dan alveolus. Proses ventilasi ini dipengaruhi oleh    
    beberapa factor, yaitu jalan napas yang bersih, system saraf pusat dan system pernapasan yang    
    utuh, rongga toraks yang mampu mengembang dan berkontraksi dengan baik, serta komplians    
    paru yang adekuat.
2. Pertukaran gas alveolar
    Setelah oksigen masuk alveolar, proses proses pernapasan berikutnya adalah difusi oksigen    
    dari alveolus ke pembuluh darah pulmoner. Difusi adalah pergerakan molekul dari area    
    berkonsentrasi atau bertekanan tinggi ke area berkonsentrasi atau bertekanan rendah. Proses    
    ini berlangsung di alveolus dan membran kapiler, dan dipengaruhi oleh ketebalan membran    
    serta perbedaan tekanan gas.
3. Transpor oksigen dan karbon dioksida
    Tahap ke tiga pada proses pernapasan adalah tranpor gas-gas pernapasan. Pada proses ini,    
    oksigen diangkut dari paru menuju jaringan dan karbon dioksida diangkut dari jaringan    
    kembali menuju paru.

b. Pernapasan internal
    Pernapasan internal (pernapasan jaringan) mengaju pada proses metabolisme intra sel yang    
    berlangsung dalam mitokondria, yang menggunakan oksigen dan menghasilkan CO2 selama    
    proses penyerapan energi molekul nutrien. Pada proses ini darah yang banyak mengandung    
    oksigen dibawa ke seluruh tubuh hingga mencapai kapiler sistemik. Selanjutnya terjadi    
    pertukaran O2 dan CO2 antara kapiler sistemik dan sel jaringan. Seperti di kapiler paru,    
      pertukaran ini juga melalui proses difusi pasif mengikuti penurunan gradien tekanan parsial.

C. ETIOLOGI

a. Faktor Fisiologi
   1. Menurunnya kemampuan mengikatO 2 seperti pada anemia
   2. Menurunnya konsentrasi O2 yang diinspirasi seperti pada Obstruksi saluran pernafasan   
            bagian atas
       3. Hipovolemia sehingga tekanan darah menurun yang mengakibatkan terganggunya     
           oksigen(O2)
       4. Meningkatnya metabolisme seperti adanya infeksi, demam luka, dll
       5. kondisi yang mempengaruhi pergerakkan dinding dada seperti pada kehamilan, obesitas,     
           muskulur sekeletal yang abnormal, penyakit kronis seperti TBC paru.
    b. Faktor Perilaku
       1. Nutrisi, misalnya gizi yang buruk menjadi anemia sehingga daya ikat oksigen
           berkurang.
       2. Exercise, exercise akan meningkatkan kebutuhan Oksigen.
       3. Merokok, nikotin menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah perifer dan
           koroner
       4. Alkohol dan obat-obatan menyebankan intake nutrisi /Fe mengakibatkan
           penurunan hemoglobin, alkohol menyebabkan depresi pusat pernafasan.
       5. kecemasan ; menyebabkan metabolisme meningkat.


D. FISIOLOGI PERUBAHAN FUNGSI PERNAFASAN

1. Hiperventilasi
    Merupakan upaya tubuh dalam meningkatkan jumlah O2 dalam paru-paru agar pernafasan lebih  
    cepat dan dalam. Hiperventilasi dapat disebabkan karena kecemasan, infeksi, keracunan obat-
    obatan, keseimbangan asam basa seperti osidosis metabolik Tanda-tanda hiperventilasi adalah  
    takikardi, nafas pendek, nyeri dada, menurunnya konsentrasi, disorientasi, tinnitus.
2. Hipoventilasi
    Terjadi ketika ventilasi alveolar tidak adekuat untuk memenuhi penggunaan O2 tubuh atau  
    untuk mengeluarkan CO2 dengan cukup. Biasanya terjadi pada keadaaan atelektasis (Kolaps  
    Paru). Tanda-tanda dan gejalanya pada keadaan hipoventilasi adalah nyeri kepala, penurunan    
    kesadaran, disorientasi, ketidak seimbangan elektrolit.
3. Hipoksia
    Tidak adekuatnya pemenuhuan O2 seluler akibat dari defisiensi O2 yang didinspirasi atau  
    meningkatnya penggunaan O2 pada tingkat seluler. Hipoksia dapat disebabkan oleh   
    menurunnya hemoglobin, kerusakan gangguan ventilasi, menurunnya perfusi jaringan seperti   
    pada syok, berkurannya konsentrasi O2 jika berada dipuncak gunung. Tanda tanda Hipoksia   
    adalah kelelahan, kecemasan menurunnya kemampuan konsentrasi, nadi meningkat, pernafasan    
    cepat dan dalam sianosis, sesak nafas.

E. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN

Patologi
1. Penyakit pernafasan menahun (TBC, Asma, Bronkhitis)
2. Infeksi, Fibrosis kritik, Influensa
3. Penyakit sistem syaraf (sindrom guillain barre, sklerosis, multipel miastania gravis)
4. Depresi SSP / Trauma kepala
5. Cedera serebrovaskuler (stroke)
Maturasional
1. Bayi prematur yang disebabkan kurangnya pembentukan surfaktan
2. Bayi dan taddler, adanya resiko infeksi saluran pernafasa dan merokok
3. Anak usia sekolah dan remaja, resiko infeksi saluran pernafasan dan merokok
4. Dewasa muda dan pertengahan. Diet yang tidak sehat, kurang aktifitas stress yang
  
    mengakibatkan penyakit jantung dan paru-paru
5. Dewasa tua, adanya proses penuaan yang mengakibatkan kemungkinan arterios klerosis,
  
    elastisitasi menurun, ekspansi pann menurun.
Situasional (Personal, Lingkungan)
1. Berhubungan dengan mobilitas sekunder akibat : pembedahan atau trauma nyeri, ketakutan,
   
    ancietas, keletihan.
2. Berhubungan dengan kelembaban yang sangat tinggi atau kelembaban rendah
3. Berhubungan dengan menghilangnya mekanisme pembersihan siliar, respons inflamasi, dan
    
    peningkatan pembentukan lendir sekunder akibat rokok, pernafasan mulut.

F. BATASAN KARAKTERISTIK

MAYOR
• Perubahan frekuensi pernafasan atau pola pernafasan (dari biasanya)
• Perubahan nadi (frekuensi, Irama dan kualitas)
• Dispnea pada usahan napas
• Tidak mampu mengeluarkan sekret dijalan napas
• Peningkatan laju metabolik
• Batuk tak efektif atau tidak ada batuk

MINOR
• Ortopnea
• Takipnea, Hiperpnea, Hiperventilasi
• Pernafasan sukar / berhati-hati
• Bunyi nafas abnormal
• Frekuensi, irama, kedalaman. Pernafasan abnormal
• Kecenderungan untuk mengambil posisi 3 titik (dukuk, lengan pada lutut,condong kedepan)
• Bernafas dengan bibir dimonyongkan dengan fase ekspirasi yang lama
• penurunan isi oksigen
• Peningkatan kegelisahan
• Ketakutan
• Penurunan volume tidal
• Peningkatan frekuensi jantung
(Diagnosa keperawatan, Lynda Tuall Carpennito, hal 383 – 387)



G. Manifestasi Klinik

- suara napas tidak normal.
- perubahan jumlah pernapasan.
- batuk disertai dahak.
- Penggunaan otot tambahan pernapasan.
- Dispnea.
- Penurunan haluaran urin.
- Penurunan ekspansi paru.
- Takhipnea


H. Fokus Pengkajian
a. Riwayat Keperawatan
   1. Masalah keperawatan yang pernah dialami
       - Pernah mengalami perubahan pola pernapasan.
       - Pernah mengalami batuk dengan sputum.
       - Pernah mengalami nyeri dada.
       - Aktivitas apa saja yang menyebabkan terjadinya gejala-gejala di atas.
   2. Riwayat penyakit pernapasan
       - apakah sering mengalami ISPA, alergi, batuk, asma, TBC, dan lain-lain ?
       - bagaimana frekuensi setiap kejadian?

   3. Riwayat kardiovaskuler
       - pernah mengalami penyakit jantung (gagal jantung, gagal ventrikel kanan,dll) atau peredaran   
         darah.
   4. Gaya hidup
       - merokok , keluarga perokok, lingkungan kerja dengan perokok.


b. Pemeriksaan Fisik
1. Mata
    - konjungtiva pucat (karena anemia)
    - konjungtiva sianosis (karena hipoksemia)
    - konjungtiva terdapat pethechia (karena emboli lemak atau endokarditis)
2. Kulit
    - Sianosis perifer (vasokontriksi dan menurunnya aliran darah perifer)
    - Penurunan turgor (dehidrasi)
    - Edema.
    - Edema periorbital.
3. Jari dan kuku
    - Sianosis
    - Clubbing finger.
4. Mulut dan bibir
    - membrane mukosa sianosis
    - bernapas dengan mengerutkan mulut.
5. Hidung
    - pernapasan dengan cuping hidung.
6. Vena leher
   - adanya distensi / bendungan.
7. Dada
   - retraksi otot Bantu pernapasan (karena peningkatan aktivitas pernapasan, dispnea, obstruksi  
     jalan pernapasan)
   - pergerakan tidak simetris antara dada kiri dan dada kanan.
   - Tactil fremitus, thrills (getaran pada dada karena udara/suara melewati saluran/rongga    
     pernapasan)
   - Suara napas normal (vesikuler, bronchovesikuler, bronchial)
   - Sara napas tidak normal (creklerlr/rales, ronkhi, wheezing, friction rub/pleural friction)
   - Bunyi perkusi (resonan, hiperesonan, dullness)
8. Pola pernapasan
   - pernapasan normal(eupnea)
   - pernapasan cepat (tacypnea)
   - pernapasan lambat (bradypnea)

c. Pemeriksaan penunjang
   - EKG
   - Echocardiography
   - Kateterisasi jantung
   - Angiografi

I. Intervensi

1. Diagnosa : Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan sekret yang berlebihan dan kental.
    Tujuan : pola nafas lebih efektif dan kembali normal.
    Kriteria Hasil : sesak nafas berkurang/hilang, RR 16-24 x/menit, Tak ada wheezing
Intervensi umum :
Mandiri
- Kaji faktor penyebab.
- Kurangi atau hilangkan faktor penyebab.
- Jika ada nyeri, berikan obat pereda nyeri sesuai kebutuhan.
- Sesuaikan pemberian dosis analgesik dengan sesi latihan batuk.
- Pertahankan posisi tubuh yang baik untuk mencegah nyeri atau cedera otot.
- Jika sekret kental, pertahankan hidrasi yang adekuat (tingkatkan asupan cairan hingga 2-3 x
  
  sehari jika ada kontraindikasi).
- Pertahankan kelembapan udara inspirasi yang adekuat.

Kolaborasi
- Kolaborasikan dengan dokter untuk tindakan suction guna mempertahankan kepatenan jalan
  napas.
- Kolaborasikan dengan dokter untuk pemberian oksigen melalui masker, kanula hidung, dan
 
  transtrakea guna mempertahankan dan meningkatkan oksigenasi.

Rasional
- Batuk yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kelemahan dan tidak efektif, dan bisa
   
  menyebabkan bronchitis.
- Latihan napas dalam dapat melebarkan jalan napas.
- Duduk pada posisi tegak menyebabkan organ-organ abdomen terdorong menjauhi paru,
 
  akibatnya pengembangan paru menjadi lebih besar.
- Pernapasan diafragma mengurangi frekuensi pernapasan dan meningkatkan ventilas alveolar.
- Sekret yang kental sulit dikeluarkan dan dapat menyebabkan henti mukus, kondisi ini dapat
   
  menimbulkan atelektasis.
- Secret harus cukup encer agar mudah dikeluarkan.
- Nyeri atau rasa takut akan nyari dapat melelah dan menyakitkan.
  Dukungan emosional menjadi semangat bagi klien, air hangat dapat membantu relaksasi.

DAFTAR PUSTAKA


Brunner & Suddarth.2002. Keperawatan Medikal Bedah. Vol:1. Jakarta: EGC
NANDA. 2005-2006. Panduan Diagnosa Keperawatan. Jakarta: Prima Medika
Mubarak, Wahit Iqbal. 2007. Buku ajar kebutuhan dasar manusia : Teori & Aplikasi dalam praktek. Jakarta: EGC.
Willkinson. Judith M. 2007. Diagnosa Keperawatan.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran Kozier. Fundamental of Nursing
Tarwanto, Wartonah. 2006. Kebutuhan dasar manusia dan proses keperawatan edisi 3. Salemba:Medika.
Carperito, Lynda Juall. 2000. Diagnosa Keperawatan edisi 8, EGC: Jakarta
Alimul, Azis. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Salemba Medika: Jakarta